der@zino Blog: Demam Berdarah Dengue, Suhu Tubuh Naik Turun

Pages

Wednesday, September 15, 2010

Demam Berdarah Dengue, Suhu Tubuh Naik Turun


 
Penyakit demam berdarah sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Kendati gencar didengungkan, kasusnya hingga kini masih tetap tinggi, terutama pada anak-anak. Untuk itu, perlu pengetahuan prosedur penanganan demam yang tepat.

DEMAM berdarah dengue (
DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang masuk dan bersiklus di dalam tubuh nyamuk. Si belang aedes aegypti adalah biang penyebar penyakit mematikan ini. Hidup bersih dengan tidak membiarkan ada satu pun jentik nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar merupakan upaya pencegahan terbaik.

Perlu diingat,
DBD bisa mengancam setiap saat dan tak lagi kenal musim! Dokter umum dan kolumnis kesehatan dr Handrawan Nadesul mengatakan, pihak medis belum mampu melawan virus dengue, sebab obat untuk virus penular DB ini belum ditemukan. Namun, pada dasarnya DBD dapat ditanggulangi kalau tidak terlambat mendapat pertolongan medis. Hanya sebagian kecil kasus yang tergolong parah atau dengue shock syndrome, ujarnya.

Agar tidak terlambat, masyarakat perlu diajarkan mengenali penyakit dan gejala DBD lebih dini, seperti demam, kebocoran pembuluh darah, perdarahan dan pembesaran hati. Selain itu, bekali diri dengan pengetahuan tata laksana penanganan demam yang tepat. Dengan begitu orangtua tak perlu panik jika anaknya telanjur terkena demam.

Gejala demam bisa terjadi secara mendadak dan berlangsung selama 2
7 hari. Demam pada penderita DBD sering disebut demam pelana kuda, sebab suhu tubuh penderita cenderung turun-naik (3 hari panas, hari ke-4 turun, dan naik lagi pada hari ke-5). Perubahan suhu ini sering kali mengecoh para ibu. Saat suhu tubuh anak yang tadinya tinggi lalu menurun, si ibu mengira si anak sudah sembuh. Padahal bisa jadi anak mengalami shock, kata spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM dr Hindra Irawan Satari Sp A (K) MTrop Med.

Fase infeksi dengue terbagi tiga, yaitu fase demam, kritis, dan penyembuhan. Pada fase demam, ibu bisa melakukan beberapa terapi demam seperti pemberian obat penurun panas, kompres hangat,dan terapi suportif melalui pemberian oralit, larutan gula-garam, jus buah dan susu. Tidak harus jus jambu merah, yang penting pastikan anak mendapat asupan cairan dengan cara minum. Jika anak bisa buang air kecil setiap 46 jam, itu bisa jadi indikator bahwa cairannya sudah cukup. Selain itu, ukur suhu tubuhnya setiap 46 jam,ungkap Hindra.

Dari ketiga fase tersebut, yang paling krusial adalah penanganan pada fase kritis. Fase ini biasanya terjadi pada hari ke-4 dan ke-5 perjalanan penyakit, dan berlangsung 2448 jam. Obat antidemam tidak lagi diberikan pada fase ini. Tata laksana yang umum dilakukan adalah dengan mencatat tanda vital serta asupan dan keluaran cairan; memberikan oksigen pada kasus yang disertai shock; menghentikan perdarahan, kecuali kalau hanya mimisan tidak masalah; serta menghindari tindakan yang tidak perlu (misalkan pemberian obat atau zat-zat yang bisa menimbulkan traumatik).

Pada fase kritis umumnya penderita tidak bisa makan dan minum karena tidak nafsu makan atau muntah-muntah. Jadi harus benar-benar dirawat, tuturnya. Hindra menambahkan bahwa pada fase itu jumlah cairan juga tetap harus mencukupi agar terhindar dari risiko perdarahan. Jika penderita tidak dapat makan dan minum melalui mulut (apalagi terjadi shock), maka dokter biasanya akan mengindikasikan pemberian cairan infus.

Senada dengan Hindra,Handrawan Nadesul menjelaskan bahwa menjaga tubuh dari dehidrasi juga penting dilakukan agar demam tidak berkembang menjadi shock.
Darah pasien DBD mengental karena plasma darah keluar dari pembuluh darah. Semakin kental,semakin terancam shock. Padahal, shock mengancam apabila kekurangan cairan,ungkapnya.

Adapun pertanda dehidrasi berupa kulit, bibir dan lidah menjadi kering; tampak kehausan, sudah lama tidak buang air kecil, dan kelenturan kulit menurunbila kulit dinding perut dicubit tidak bisa membal kembali. Adapun tanda-tanda kalau sudah terancam shock: nadi cepat namun melemah, berkeringat dan kulit dingin. Hal lain yang tak kalah penting dalam penanganan DBD adalah pemeriksaan darah di laboratorium medis.

Ini penting untuk mengetahui terjadinya kebocoran plasma darah.
Selama ini yang sering disebut-sebut dalam DBD adalah penurunan kadar trombosit. Padahal, penderita juga mengalami penurunan jumlah sel darah putih. Jadi untuk mengetahui kebocoran plasma, pemeriksaan darah harus dilakukan dengan lengkap, tandas Hindra Irawan Satari.

Parasetamol Lebih Aman
DEMAM merupakan mekanisme alamiah tubuh dalam menetralisir virus yang masuk. Namun, ada yang kurang tepat dalam hal penatalaksanaan demam. Masyarakat sering kali menganggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Akibatnya, sikap mengobati sendiri menjadi kecenderungan mayoritas masyarakat
Indonesia (swamedikasi). Tak jarang para ibu memilih obat antidemam secara acak dengan bekal wawasan ihwal obat yang seadanya dan terbatas.

Banyak orangtua yang melakukan pengobatan sendiri dengan memberikan anak mereka obat penurun demam yang dijual bebas tanpa mengetahui kandungan obat dan kontraindikasi dari obat tersebut, ungkap dr Handrawan Nadesul. Obat antidemam (antipyreticum) memang boleh dijual bebas (over the counter).

Beberapa golongan obat antidemam yang beredar di pasaran meliputi golongan parasetamol (disebut juga dengan acetaminophen atau APP), asam salisilat (acetylsalicylate acid) dan ibuprofen. Perbedaan terletak pada derajat antidemam dan antinyeri, selain juga efek sampingnya.

Kendati sama-sama obat pereda panas, tidak semua jenis obat itu memiliki fungsi yang sama untuk semua kasus demam. Jadi indikasi pemakaian juga harus tepat.
Karenanya secara medis diperlukan sikap memilih yang bijak. Dalam hal ini masyarakat perlu diberdayakan untuk mengenali,ujarnya.

Sebuah riset independen terkini mengungkapkan bahwa sekitar 78% konsumsi obat penurun demam di wilayah perkotaan di Indonesia adalah produk yang mengandung asam asetilsalisilat. Padahal, jenis bahan aktif ini tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak karena diduga berkaitan dengan sindroma Reye, yang ditandai dengan gejala tidak sadar dan gangguan fungsi hati.

Selain itu, banyak konsumen yang tidak menyadari bahwa baik asam asetilsalisilat maupun obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) seperti ibuprofen mempunyai indikasi kontra pada demam dengue maupun DBD. Akibatnya, dapat menimbulkan risiko perdarahan pada infeksi dengue. Berdasarkan rekomendasi WHO 1997, pemakaian obat antidemam golongan parasetamol lebih tepat untuk meredakan demam DBD.

Obat pilihan pertama untuk menurunkan demam pada dengue adalah parasetamol. Hal ini harus diikuti dengan asupan cairan yang cukup seperti oralit, jus buah, susu, dan lain-lainnya, kata dr Hindra Irawan Satari Sp A (K) M Trop Paed. Hindra menambahkan, dalam hal menurunkan panas,parasetamol mungkin kalah dengan golongan penurun panas lainnya, tapi jauh lebih aman bagi anak-anak.

Pendapat ini dibenarkan oleh dosen Fakultas Farmasi UGM Nurlaila Indarto Msi Apt, yang juga tidak menganjurkan pemberian obat demam yang mengandung ibuprofen bagi anak-anak.
Obat dengan kandungan asam asetilsalisilat bisa mengiritasi lambung, sebab sifatnya asam. Akibatnya, bisa menurunkan trombosit sehingga terjadi trombosipeni, ungkapnya. (inda susanti)

 
Sumber:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kesehatan/demam-berdarah-dengue-suhu-tubuh-naik-3.html

Related Post

0 comments:

Post a Comment

Biasakan untuk menuliskan komentar setelah Anda membaca artikel.

FOLLOWERS